al-insan

Jumaat, 28 Jun 2019

BAGAIMANA MAKMUM MASBUK KETIKA SHALAT JUMAAT?


Bagaimana hukum orang yang sedang shalat Jumaat dan orang tersebut terkentut kemudian orang itu wudhu setelah masuk masjid orang itu sudah tertinggal 1 rakaat atau telah melepasi rakaat ke2 di waktu sujud atau tahiyat akhir. apakah orang itu harus menambah kekurangan rakaat atau wajib mengantinya dengan shalat zuhur?

Jawapan:

Orang yang menghadiri sholat jumaat, tidak disyaratkan wajib mendapatkan khutbahnya imam. Andaikan ada orang yang datang lewat, sehingga baru dapat berjemaah ketika iqamah, maka dia cukup melaksanakan shalat dua rakaat, sebagaimana yang dilakukan oleh imam. Kerana orang ini dianggap mendapatkan Jumaat.

Lalu bila batasan seseorang dianggap mendapatkan Jumaat, sehingga dia hanya cukup shalat dua rakaat?

Pendapat segelintir ulama Syafi’iyah yang disebutkan oleh Imam Nawawi dengan mengikuti dalil berikut,
Dari Abu Bakrah, ia berkata bahwa ia pernah mendapati shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sedang ruku’. Lalu Abu Bakrah ruku’ sebelum mendapati shaf. Hal ini pun diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Semoga Allah menambah padamu semangat, seperti itu janganlah diulangi.” (HR. Bukhari no. 783).

Shalat dari Abu Bakrah masih sah dan terpenuhi dan tidak diperintah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diulangi. Ketika itu pun Abu Bakrah tidak punya kesempatan membaca Al Fatihah. Sedangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “janganlah mengulangi”, ini menunjukkan bahwa larangan masuk dalam shalat sebelum mencapai shaf.

Sementara ulama lain berpendapat, makmum (yang masbuq) hanya mengganti dua rakaat, selama dia masih mendapatkan bagian apapun dari (shalatnya imam). Ini adalah pendapat Abu Hanifah. (Bidayatul Mujtahid, 1:199)
Imam Abu Hanifah sendiri berpendapat bahwa jika imam mengucapkan salam kemudian ia sujud sahwi, lalu makmum mendapatkannya, maka ia mendapatkan shalat Jumat.

Ada juga dari ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa siapa yang mendapatkan tasyahud akhir bersama imam, maka ia mendapat shalat Jumaat. Namun setelah itu, ia mesti mengerjakan dua rakaat lagi, barulah shalat Jumaatnya sempurna.

Syaikh Abu Hamid menceritakan pula dari para ulama, jika mendapatkan imam sebelum salam, maka berarti mendapatkan shalat Jumaat.

Sedangkan pendapat lainnya dari ‘Atho’, Thawus, Mujahid, dan Makhul berpendapat bahwa siapa yang tidak mendapatkan khutbah, maka ia mengerjakan shalat empat raka’at yakni sholat zohor.

Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam As-Syafi’i, sebagaimana keterangan Syekh Abdul Aziz Ibnu Baz berikut:

“Apabila makmum masbuk shalat Jumaat hanya mendapatkan sujud dan tasyahud, maka dia shalat zuhur dan tidak shalat Jumat (2 rakaat). Karena status shalat hanya boleh didapatkan satu rakaat paling sedikit. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Siapa yang mendapatkan satu rakaat shalat maka dia sudah dianggap mendapatkan shalat.” (HR. Bukhari 546 dan Muslim 954)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Telah kami sebutkan bahwa madzhab kami yaitu dalam madzhab Syafi’i jika seseorang mendapatkan ruku’ di raka’at kedua, maka berarti mendapatkan shalat Jumaat. Jika tidak, berarti tidak. Inilah pendapat kebanyakan ulama. Ibnul Mundzir menceritakan hal ini dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, Sa’id bin Al Musayyib, Al Aswad, ‘Alqomah, Al Hasan Al Bashri, Urwah bin Jubair, An Nakho’i, Az Zuhri, Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Abu Yusuf, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur. Ibnul Mundzir menyatakan bahwa pendapat beliau pun seperti itu.
Ibnu Rusyd mengatakan,

“Sebagian ulama berpendapat, jika makmum mendapatkan satu rakaat shalat Jumaat (bersama imam) maka dia mendapat Jumaat, sehingga dia hanya mengganti satu rakaat. Namun jika dia mendapatkan kurang dari satu rakaat (bersama imam), maka dia wajib shalat zuhur, 4 rakaat. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam As-Syafi’i.

Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من أدرك ركعة من الجمعة فليضف إليها أخرى وقد تمت صلاته

“Siapa yang mendapatkan satu rakaat shalat Jumaat maka hendaknya dia tambahkan rakaat yang lain, sehingga shalat Jumaatnya sempurna.” (HR. An-Nasai dan At-Turmudzi)

Dari dua hadis ini diketahui bahwa orang yang tidak mendapatkan satu rakaat jumaatnya bersama imam maka dia tidak mendapatkan jumaat, sehingga dia wajib shalat zuhur.


Ulama Syafi’iyah juga berpendapat sebagaimana pendapat dalam madzhab kami yaitu dari Asy Sya’bi, Zufr, Muhammad bin Al Hasan. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari – Muslim yang telah disebutkan di atas.” (Al Majmu’, 4: 302)

Khamis, 27 Jun 2019

HADIS BERSIN DAN CARA AMAL


Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah ﷺ  bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin dan memuji Allah (mengucapkan “Alhamdulillah”), maka doakanlah dia (dengan mengucapkan “Yarhamukallah”).  Dan apabila dia tidak memuji Allah, maka janganlah kamu mendoakannya.” (Hadis Riwayat Muslim)

Di dalam hadis yg lain

Dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata bahawa Rasulullah ﷺ  bersabda :

“Jika salah seorang dari kamu bersin, hendaklah ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’ (Segala puji bagi Allah)’ dan saudaranya atau orang yang bersamanya mengatakan kepadanya ‘Yarhamukallah’ (Semoga Allah merahmatimu)’. Jika salah seorang mengucapkan ‘Yarhamukallah’, maka orang yang bersin tersebut hendaklah menjawab ‘Yahdiikumullah Wayushlih Baalakum’  (Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikanmu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).”
(Hadis Riwayat Imam Bukhari r.a.)

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas'adah telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Rabi' telah menceritakan kepada kami Hadlrami bekas budak Al Jarud, dari Nafi', bahwa seseorang bersin di sisi Ibnu Umar lalu dia mengucapkan "ALHAMDULILLAAH WASSALAAMU 'ALAA RASUULILLAAH (segala puji bagi Allah dan keselamatan atas Rasulullah)."
Ibnu Umar menjawab; lalu aku berkata; "ALHAMDULILLAAH WASSALAAMU 'ALAA RASUULILLAAH (segala puji bagi Allah dan keselamatan atas Rasulullah)?, bukan demikian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada kami, beliau mengajarkan kepada kami supaya mengucapkan; "ALHAMDULILLAAH 'ALA KULLI HAAL (segala puji bagi Allah dalam keadaan apapun)."
Abu Isa berkata; Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Ziyad bin Ar Rabi'.

Kata Al Imam Al Nawawi dalam Al Azkar:
فصل: إذا قال العاطس لفظاً آخر غير الحمد لله لم يستحق التشميت
Apabila orang yang bersin mengucapkan lafaz lain selain dari Alhamdulillah tidak berhak di doakan oleh orang yang mendengarnya.

Kata Al Imam Ibn Al Qayyim:
لا تستحب الصلاة على النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ عند العطاس وإنما هو موضع حمد الله تعالى وحده ,ولم يشرع النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ عند العطاس إلا حمد الله تعالى ,والصلاة على رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ,وان كانت من أفضل الأعمال ,وأحبها إلى الله تعالى فلكل ذكر موطن يخصه لا يقوم غيره مقامه فيه ,
قالوا :ولهذا لا تشرع الصلاة عليه في الركوع , ولا السجود ,ولا قيام الاعتدال من الركوع
Tidak disunatkan selawat atas nabi s.a.w ketika bersin, sesungguhnya tempat itu ialah tempat memuji Allah taala sahaja. Tidak disyariatkan oleh Nabi s.a.w selepas bersin melainkan hamdalah. Walaupun selawat itu merupakam amalan yang terbaik dan disukai kepada Allah...sebab itu sewaktu rukuk, sujud dan i'tidal tidak disyariatkan selawat kepada nabi.

Kata Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam majmuk al fatawa:
إن من المقرر عند العلماء أنه لا يجوز التقرب إلى الله بما لم يشرعه الله, ولو كان أصله مشروعا كالأذان مثلا لصلاة العيدين, وكالصلاة التي تسمى بصلاة الرغائب, وكالصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم عند العطاس , ومن البائع عند عرضه بضاعته للزبون - ونحو ذلك كثير وكثير جدا - من محدثات الأمور التي يسميها الإمام الشاطبي ـ رحمه الله ـ ب" البدع الإضافية " وحقق في كتابه العظيم حقا " الاعتصام " دخولها في عموم قوله ـ صلى الله عليه وسلم ـ: " كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Antara perkara yang dipersetujui ulamak tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan walaupun asalnya disyariatkan seperti azan untuk solat hari raya, seperti solat raghaib, seperti Selawat selepas bersin...

PERBAHASAN SHOLAT ISYRAQ

Shalat sunnah yang boleh dilakukan oleh sebagian jama’ah shalat shubuh sebelum meninggalkan masjid, yakni shalat Isyraq atau juga disebut shalat Syuruq atau shalat Thulu’. Ia dinamakan demikian kerana shalat ini dikerjakan pada waktu masuknya waktu Isyraq atau telah Thulu’  waktu 10 atau 15minit sebelum terbitnya matahari.

Tentang derajat hadits tentang shalat Isyraq memang diperselisihkan oleh para ulama, sebagian memandang sebagai hadits dha’if sedangkan sebagian ulama lainnya menghasankan sehingga boleh dijadikan dalil kerana ada penguat melalui hadis yg lain.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna“[HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir”no. 7741), dinyatakan baik isnadnya oleh al-Mundziri.]HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403)Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 586, katanya: hasan gharib.

Dalam Sanad hadits ini melalui Abdullah bin Muawiyah Al Jumahi Al Bashri, Abdul Aziz bin Muslim, Abu Zhilal, Anas bin Malik.

Siapakah Abu Zhilal? Imam At Tirmidzi bertanya kepada Imam Al Bukhari, katanya: “Dia muqaribul hadits (haditsnya mendekati shahih), namanya Al Hilal.” (Sunan At Tirmidzi No. 586). Kebanyakkan ulama mendhaifkannya, Yahya bin Ma’in mengatakan: dhaif, An Nasa’i dan Al Azdi mengatakan: dhaif. Ibnu Hibban mengatakan: seorang syaikh yang lalai, tidak boleh dijadikan hujjah. Ya’qub bin Sufyan mengatakan layyinul hadits (haditsnya lemah) Abu Ahmad Al Hakim mengatakan: bukan termasuk orang yang kuat hafalannya. (Tahdzibut Tahdzib, 11/85)
Dari semua perawi yang ada, semuanya tsiqah kecuali Abu Zhilal yang didhaifkan umumnya para imam, kecuali Imam Bukhari yang menyebutnya muqaribul hadits. Inilah yang menyebabkan sanad hadits ini memiliki kecacatan. Walaubagaimanapun Imam At Tirmidzi tidak mendhaifkannya, dia menghasankannya, sebab hadits seperti ini ada dalam berbagai riwayat lain yang menjadi syawahid (saksi yang menguatkan)

riwayat yang dimaksud untuk dijadikan sebagai penguat hadits Imam At Tirmidzi di atas adalah dari

Dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من صلى صلاة الغداة في جماعة ثم جلس يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم قام فصلى ركعتين انقلب بأجر حجة وعمرة

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah lalu kemudian dia duduk untuk berdzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari, kemudian dia bangun mengerjakan shalat dua rakaat, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana haji dan umrah.”
Dikeluarkan oleh:
–          Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 7741, juga dalam Musnad Asy Syamiyyin No. 885.

–          Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 3542.

Hadits ini sanadnya kuat, dan dapat dijadikan sebagai syahid bagi hadits di atas. Imam Al Haitsami mengatakan: “Sanadnya Jayyid.” (Majma’ Az Zawaid, 10/104, No. 16938). Imam Al Mundziri juga mengatakan sanadnya jayyid. (At Targhib wat Tarhib No. 467). Syaikh Al Albany mengatakan: “Hasan Shahih.” (Shahih At Targhib wat Tarhib, No. 467)

Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh para ulama dengan shalat isyraq (terbitnya matahari), yang waktunya di awal waktu shalat dhuha

*APAKAH WAJIB DUDUK DITEMPAT SHALATNYA?*

Penjelasan Syaikh As Sinqithi menunjukkan dengan tegas bahwa beliau mempersyaratkan wajib duduk di tempat shalatnya dan tidak boleh bergerak atau berdiri sedikit pun. Beliau berdalil dengan tambahan riwayat: “…duduk di tempat shalatnya..” tetapi sebenarnya ulama berselisih pendapat dalam memahami lafadz: “…duduk di tempat shalatnya…”

Al Hafidz Ibn Rajab Al Hambali mengatakan, “Ada perbezaan dalam memahami lafadz ‘..tempat shalatnya..’. Apakah maksudnya itu tempat yang digunakan untuk shalat ataukah masjid yang digunakan untuk shalat?” kemudian Ibn Rajab membawakan hadis riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bangkit dari tempat shalat subuh sampai terbit matahari.

Setelah membawakan dalil ini, Ibn Rajab memberi komen, “…dan diketahui bersama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah duduk di tempat yang beliau gunakan untuk shalat. Kerana setelah shalat (wajib), beliau berpaling dan menghadapkan wajahnya kepada para sahabat radhiallahu’anhum. (Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibn Rajab 5:28).

Mula Ali Al Qori mengatakan, “…kemudian duduk berdzikir… maksudnya adalah terus-menerus di tempatnya dan masjid (yang dia gunakan untuk shalat jamaah subuh). Hal ini tidaklah (menunjukkan) terlarangnya berdiri untuk melakukan thawaf, belajar, atau mengikuti majlis pengajian, selama masih di dalam masjid. sambil terus berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, dia masih (mendapatkan fadhilah sebagaimana) dalam hadis ini.” (Mirqatul Mafatih, 4:57).


Keutamaan dalam hadits ini adalah bagi orang yang berzikir kepada Allah di masjid tempat dia shalat sampai matahari terbit, dan tidak bercakap atau melakukan hal-hal yang tidak termasuk zikir, kecuali kalau wudhunya batal, maka dia boleh keluar masjid untuk berwudhu dan segera kembali ke masjid

Rabu, 26 Jun 2019

Doa ketika hujan




DOA KETIKA HUJAN LEBAT

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺣَﻮَﺍﻟَﻴْﻨَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ,ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍلآكَاﻡِ ﻭَﺍﻟﻈِّﺮَﺍﺏِ ﻭَﺑُﻄُﻮﻥِ ﺍﻟﺄَﻭْﺩِﻳَﺔِ ﻭَﻣَﻨَﺎﺑِﺖِ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮِ

"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merosak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di dataran tinggi, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pokok- pokok.” (HR al-Bukhari no 957, 958 dan Nasa'i no 1510) Sahih

SELEPAS HUJAN TURUN

ﻣُﻄِﺮْﻧَﺎ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺘِﻪِ


"Kita diberi hujan kerana kurnia dan rahmat Allah." (HR. al-Bukhari no 846, 980, 3832, Muslim no 104 dan Abu Daud no 3407) Sahih